Jika Senggi Tak Ingin Mati, Mari Benahi!

senggigi

Senggigi Sunset

Pagi ini saya mengendarai mobil ke Senggigi untuk suatu keperluan. Di sepanjang ruas jalan dari pertigaan Montong sampai di tikungan di atas Sheraton, di mana orang-orang Mataram biasa menghabiskan senja sambil menikmati jagung bakar dan matahari tebenam, nampak pembangunan restoran, hotel dan sarana-sarana pendukung pariwisata lainya terus menggeliat. Mungkin ini pertanda awal kebangkitan pariwisata di kawasan Senggigi dan Lombok secara umum. Senang rasanya hati ini kalau melihat perkembangan tersebut karena saya pasti akan menjadi bagian dari majunya pariwisata Lombok. Minimal ada dua alasan kenapa saya girang. Pertama, saya lahir, tumbuh besar dan tinggal di Lombok. Kedua, karena dari tahun 96 saya adalah praktisi pariwisata yang memulai karir dari Peramu Wisata alias tour guide dan sekarang telah memiliki usaha agen perjalanan wisata sendiri, yaitu De Tour Lombok. Jadi saya merasakan betul pasang surutnya industri ini. Karenanya, Sense of belonging saya terhadap pariwisata Lombok cukup terpupuk.

Di balik rasa girang melihat perkembangan sektor pendukung pariwisata seperti restoran, hotel, karaoke dll tersebut, ada sedikit rasa khawatir melihat perkembangan papan reklame yang tidak kalah pesatnya dengan pembangunan hotel dan restoran. Baliho-baliho raksasa ini mulai sedikit demi sedikit menjadi pemandangan umum yang mengganggu di central Senggigi. Mulai dari baliho raksasa yang sedang dibangun di sekitar depan hotel Sahid Tamara sampai baliho besar yang tepat berada di depan Blue Coral Dive sebelah Bukit Senggigi. Baliho-baliho tersebut terasa sedikit mengganggu pemandangan di kawasan wisata Senggigi. Lain halnya jika papan reklame tersebut tidak berada di daerah wisata. Belum lagi jika diamati, tiang dari baliho-baliho tersebut dipancangkan tepat di tengah-tengah trotoar sehingga sudah pasti mengganggu lalu lintas pejalan kaki di sana. Saya rasa Pemda Lombok Barat harus lebih jeli mengkaji perizinan iklan-iklan semacam ini yang dapat mengganggu kenyamanan wisatawan. Selain lokasi, dan ukurannya yang harus diawasai, pertumnbuhannya juga harus dibatasi. Jangan sampai niat ingin meraup PAD dari iklan ini berdampak buruk terhadap perkembangan Senggigi yang natabene merupakan andalan penyumbang PAD Lombok Barat dari sektor pariwisata. Saya jadi teringat satu pepatah Sasak yang mengatakan, “pete jarum telang linggis” [mencari jarum, kehilangan linggis]. Pepatah tersebut adalah satu kearifan lokal yang masih relevan diaplikasikan dalam kehidupan sekarang ini. Secara kontekstual pepatah tersebut dapat diartikan bahwa keinginan Pemda Lombok Barat untuk meraup PAD dari reklame, yang saya yakin jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan pendapatan dari pajak hotel, restoran dan tempat hiburan, dapat menurunkan PAD dari sektor pariwisata yang jauh lebih besar.

Memang baru-baru ini Pemda Lombok Barat gencar melakuakan penertiban pedagang kaki lima yang tadinya menjadi pemandangan menyesakkan dada di pantai Senggigi. Tetapi itu saja tidak cukup. Masalah reloksai pedagang kaki lima hanya salah satu saja dari PR Pemda. Masih banyak PR lain yang perlu penanganan segera.

Jika Senggigi tidak terus menerus dibenahi, baik dari papan reklame, baliho, spanduk liar dll, dan dari masalah-masalah lain sperti sampah dan genangan air di jalan raya Senggigi  tatkala turun hujan, maka saya khawatir tingkat kepuasan wisatawan akan menurun dan pada akhirnya ini bisa menjadi pemicu “matinya” Senggigi. Acap kali para turis mengeluh dengan genangan air yang ada di jalan raya Senggigi. Padahal masalahnya sangat sederhana. Saluran drainasenya sudah ada, namun tidak dapat berfungsi maksilmal karena storm water yang berasal dari bukit-bukit di sebelah timur tidak dapat teraliri dengan baik ke saluran-saluran tersebut karena terhalang trotoar. Jika saja Pemda sedikit lebih peduli, maka hal ini tidak perlu terjadi karena infrastrukturnya sudah ada. Tingggal sekarang masalahnya di pemeliharaaan. Mungkin saja ketika trotoarnya dibangun, kontraktornya juga telah membuatkan lubang saluran storm water yang berfungsi mengalirkan genangan dari jalan menuju ke drainase, tapi mungkin sekarang tersumbat karena minimnya kepedulian dan pemeliharaan. Selian itu, mungkin saluruan penghubung ini perlu diperbesar dan dibuat lebih terbuka agar tidak gampang tersumbat.

Jika Senggigi tak ingin “mati”, maka Pemda Lombok Barat harus mau setiap saat melihat permasalahan-permasalahan  ini sebagai sesuatu yang krusial dan segera melakuakan action agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar. Kenyataan yang dihadapi Lombok Barat sekarang adalah Kawasan Tiga Gili [Trawangan, Meno, dan Air] telah menjadi bagian dari KLU dan semester kedua tahun depan Bandara Internasional Lombok yang berlokasi di Lombok Tengah akan beroperasi. Ini berarti Orientasi perkembangan pariwisata Lombok akan segera berpindah ke Lombok Tengah dan bisa saja Senggigi mati suri. Jadi mari benahi, mari peduli. Sengggi milik kita hari ini dan nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: